LINGKUNGAN

Tulisan ini di produksi ditengah kemacetan ibukota, didalam sebuah angkot, dibumbui debu jalanan, dan dilengkapi siraman keringat dari mentari yang bersinar terik.

—————————————————–  ——————————————————————–

Disclaimer : Maksud dari tulisan ini bukan untuk riya, ujub, narsis, semata-mata hanya cara untuk bersyukur dan sebagai self reminder untuk selalu berbenah diri serta mempererat hubungan dengan yang kuasa.

Pernah gak sih mikir atau kepikiran tentang karakter diri yang terbentuk karna lingkungan dan pilihan orangtua. Sekedar berceloteh, karna hidup saya ternyata cukup terberkati, cukup terhindar dari hal-hal yang mudarat, dan terisolasi dalam frame beragama. Yap, saya baru noticed dengan apa yang membentuk diri saya sekarang ini. Saya bersyukur karna sejak kecil tumbuh di lingkungan yang melek agama. Sedari bocah which was umur 2,5 tahun saya di kenalkan dengan sekolah yang cukup islami, disaat anak-anak lain di kenalkan sama playgroup dimana pada zaman itu lebih banyak nyanyi-nyanyinya daripada belajar agama, saya justru dicelupkan ke sekolah yang lebih ‘beragama’ oleh orangtua. Meski orangtua sendiri bukan dari background keluarga yang islami banget, tapi orangtua saya terutama ibu, berusaha mendidik anak-anaknya dengan nafas islam. Alasannya simple, biar nanti kalo ibu meninggal selalu ‘dikirimin’ bacaan Alquran. Ternyata didikan orangtua saya cukup worth it, alhamdulillah ketika masuk SD, umur 5 tahun udah bisa baca Alquran.

Lingkungan yang menyelimuti masa kecil ternyata related dengan lingkungan saya di umur-umur selanjutnya. Hidup saya selalu terselimuti lingkungan yang beragama. Ketemu orang baru, kenal orang baru pun alhamdulillah karakternya gak jauh-jauh dari orang-orang beragama. Mulai dari pindah rumah ketika umur 10 (waktu itu pindah dari Jakarta ke kampung) alhamdulillah punya rumah yang deket banget sama masjid, alhasil saya dan adik-adik saya terdidik dengan hal yang gak jauh-jauh dari ‘beragama’. Sampai orang-orang yang belum kenal kami sering ngira kalo kami anak pondok a.k.a santri, padahal buat mondokin kami orangtua belum mampu. Such a honour kalo di scanning dengan hasil yang begitu.

Sampai sekarang ternyata takdir bawa saya balik lagi ke Jakarta pun lingkungan saya masih sama. Hidup dengan dikelilingi ‘malaikat baik’ yang menjelma menjadi manusia, yang selalu bisa mengingatkan akan kehadiran Allah. Hidup di Jakarta memang cukup membuat saya menjadi pribadi pemilih, istilah kasarnya kalo mau wangi ya temenan sama tukang minyak wangi. Karna saya gak mau hidup yang cuma sekali menjadi sia-sia hanya karna merantau. Saya gak mau terjerumus dalam sesuatu yang kurang baik. Dan lagi-lagi hasil bentukan lingkungan dan pilihan orangtua sadar gak sadar jadi invisible wall, dengan performance saya yang seperti sekarang ini, hampir setiap orang kenal saya segan buat ngajak ke tempat yang kurang layak buat perempuan berhijab, makan dan minum yang gak pantas di konsumsi ex: beer although alcohol less, ngingetin bahkan nasehatin saya buat gak ngeluarin kata (maaf) “anjing, babi, anjir, njir, dll” karna sebagian dari mereka bilang saya gak pantes bahkan gak cocok buat ngeluarin kata-kata itu.

Kalo orang bilang diri kita adalah representasi dari lingkungan, saya mengamininya. Karna saya merasa diri saya terbentuk karna lingkungan, mungkin bakalan lain ceritanya kalo saya dulu gak dicelupin ke hal-hal yang berbau agama oleh orangtua saya.
Orangtua itu madrasah pertama bagi anak-anaknya, rasanya betul banget. Kalo madrasahnya berbobot pasti jadi ‘orang’ kalo ngga ya jadi ‘orang-orangan’ kiranya begitu yang sering saya dengar.

Yup begitulah, semoga seumur hidup saya selalu di selimuti oleh awan kehidupan yang baik, yang selalu menjadi navigasi untuk hidup yang wajar gak neko-neko dan berpaling dari yang Kuasa.

Manusia yang terbentuk oleh lingkungan,
Dini Lutfia Anjani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s